Posted by: djeecintalaut | March 28, 2010

RANTAI MAKANAN EKOSISTEM TERUMBU KARANG DI KABUPATEN KARAWANG PROVINSI JAWA BARAT

Dwijayanti, 2010. Rantai Makanan Ekosistem Terumbu Karang Di Kabupaten Karawang. http://djeecintalaut.wordpress.com/2010/03/28/

(Terumbu Karang)

Terumbu karang merupakan sebuah ekosistem yang terdapat di laut yang penghuni utamanya karang batu, hidupnya menempel pada substrat batu atau dasar yang keras dan berkelompok membentuk koloni yang bersimbiosis dengan sejenis tumbuhan alga yang disebut zooxanthellae menghasilkan kalsium karbonat (CaCO3) menjadi terumbu, mempunyai warna dan bentuk beraneka rupa. Karang termasuk kelompok hewan (bukan kelompok tumbuhan) yang tergolong dalam Filum Cnidaria dan Ordo Scleractina, walaupun karang merupakan jenis hewan, biota ini tidak dapat bergerak atau berpindah dan tergolong sebagai biota menetap atau sesille. (supriharyono,2000).   Terumbu karang tersebar di perairan tropis antara 30°LS-30°LU pada suhu perairan hangat sekitar 18-34°C (optimalnya 26-30°C), hal ini sesuai dengan kondisi  di Kabupaten Karawang yang merupakan daerah dataran rendah dengan temperatur udara yang cukup panas antara 24-36C (BPS Karawang, 2006).

Berbagai jenis makhluk hidup yang ada di ekosistem terumbu karang saling berinteraksi satu sama lain, baik secara langsung maupun tidak langsung, membentuk suatu sistem kehidupan.  Secara umum interaksi yang terjadi di ekosistem terumbu karang terbagi atas interaksi yang sifatnya sederhana, hanya melibatkan dua jenis biota (dari spesies yang sama atau berbeda), dan interaksi yang bersifat kompleks karena melibatkan biota dari berbagai spesies dan tingkatan trofik.  Namun yang akan dibahas disini interaksi yang bersifat kompleks

Rantai makanan pada ekosistem terumbu karang

Ekosistem terumbu karang mempunyai sebuah interaksi antar makhluk yang hidup pada sebuah rantai makanan, umumnya sebuah rantai makanan (food chain) memiliki produsen, konsumen, serta decomposer (pengurai).  Pada rantai makanan (food chain) di ekosistem terumbu karang terdapat produsen (penghasil/pembuat makanan) yaitu produsen utama, atau tumbuhan autotrof(penghasil makanan sendiri), produsen merupakan dasar dari semua rantai makanan. Tumbuhan autotrof mampu mensintesis senyawa organik kompleks seperti glukosa dari kombinasi molekul anorganik sederhana dan energi cahaya dalam proses yang dikenal sebagai fotosintesis. Hasil dari fotosintetis ini digunakan untuk proses metabolisme. Fitoplankton, zooxanthalae(alga yang hidup pada lubang polip terumbu karang),rumput laut(sea weed), alga merah biasa memproduksi hasil metabolisme dari proses fotosintesis yang hasilnya akan dikonsumsi oleh tingkat konsumen pertama yang dihuni oleh organisme seperti : Zooplankton, bivalves, gastropods, tunicita, spons, ikan kecil,landak laut.

Pada konsumen tingkat pertama merupakan hewan herbivora yakni pemakan tumbuh-tumbuhan yang berasal dari produsen seperti alga, rumput laut(sea weed), fitoplankton, serta zooxanthalae. Organisme pada konsumen tingkat pertama yaitu : Zooplankton, larva inverterbarta, bivalves, gastropods, tunicita, spons, ikan kecil, serta landak laut. Para organisme ini memanfaatkan dari tumbuh-tumbuhan yang hidup di laut maupun zooxanthalae untuk menjadi bahan-bahan makanannya. Pada konsumen tingkat kedua merupakan hewan karnivora yakni pemakan hewan atau daging, biasanya memangsa konsumen tingkat pertama seperti zooplankton, larva invertebrate (larva udang), dll. Organisme pada konsumen  tingkat kedua yaitu : Moluska, krustacea, tiggerfish, lobster,s hrimp kupu-kupu (Butterfly fish). Pada konsumen tingkat ketiga merupakan hewan tingkat tertinggi dalam rantai makanan, biasanya memangsa konsumen tingkat kedua. Pada konsumen tingkat ketiga terdapat organisme seperti : Ikan Hiu, dan ikan – ikan karnivor lainnya. Semua organisme baik itu produsen, konsumen tingkat pertama, kedua, dan ketiga apabila mati akan terurai oleh decomposer ( bakteri dan fungi). Serta decomposer akan menghasilkan nutrient yang diperlukan oleh produsen dan akan membentuk rantai makanan kembali.

Potensi terumbu karang di Kabupaten Karawang tergolong kecil. Yang masih bisa diamati adalah terumbu karang di lepas pantai Pasir Putih Kecamatan Cilamaya Kulon. Luas terumbu karang diperkirakan sebesar 1.878 ha di mana separuh luasan kondisinya sudah rusak berat. Potensi terumbu karang ini terletak pada jarak lebih kurang 2-4 mil laut dan kedalaman 3-8 meter. Jenis terumbu karang yang dijumpai di daerah ini adalah acropora dan porifera (sponge) yang membentuk gugusan gosong terumbu karang (patch reef).

Jenis Terumbu karang yang terdapat di Kabupaten Karawang

(acropora sp) (sponge)                         (patch reef)

Potensi lainnya terdapat di sekitar pantai Ciparage Kecamatan Tempuran seluas 131,4 ha dan pantai Desa Sukajaya Kecamatan Cilamaya Kulon seluas 82,07 ha. Kondisi terumbu karang di kedua lokasi tersebut sudah rusak berat (mati).

Tabel : Potensi Terumbu Karang di Kabupaten Karawang

NO Kecamatan Desa Potensi Terumbu Karang
Baik(ha) Rusak(ha) Total(ha)
1 Tempuran Ciparagejaya - 131,4 131,4
2 Cilamaya Kulon Pasirjaya 939 939 1.878
3 Cilamaya Kulon Sukajaya - 82,07 82,07
Jumlah 939 1.152,47 2.091,47

Sumber: Dinas Perikanan, Kelautan dan Peternakan Kabupaten Karawang, 2001

Dari tabel yang sudah dipaparkan diatas, Kondisi karang-karang di kabupaten Karawang  sebagian besar telah mati,bahkan di daerah kecamatan tempura dan cimalaya kulon desa sukajaya dalam keadaan rusak hal ini  dikarenakan oleh karena factor alam dan kegiatan manusia, contohnya karena factor alam kondisi lingkungan yang tidak mendukung seperti sedimentasi yang tinggi dan abrasi, sedangkan karna factor kegiatan manusia ulah nelayan luar daerah yang menangkap ikan menggunakan bahan peledak.

Gambar Citra satelit yang menunjukkan daerah terumbu karang, gosong pasir dan pola arus di pantai Karawang

Sumber: Citra Landsat 2001 dan Citra ASTER 2003

Lingkaran biru adalah daerah terumbu karang, lingkaran kuning adalah gosong pasir dan garis hijau adalah batas administrasi berdasarkan Peta RBI 1995.

Rujukan Bacaan

Anonim.2010.Laporan Kegiatan Pesisir Kabupaten Karawang. http ://www.pdfqueen.com/pdf/pr/profil-kawasan-pesisir/5

Badan Pusat Statistik Kabupaten Karawang. 2003, 2006, 2007. Karawang Dalam Angka 2003, 2006,  2007. Kerjasama Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Karawang dengan Badan Pusat Statistik Kabupaten Karawang. Karawang.

Supriharyono, 2000. Pengelolaan ekosistem terumbu karang. Penerbit Djambatan. Jakarta. h 2-10

Disusun oleh:

Satrio Hadisnugroho  230210080028

Penulis merupakan mahasiswa Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran yang dilahirkan pada tanggal 14 Desember, anak pertama dari seorang pedagang kecil  yang telah menempuh pendidikan di SMPN 14 dan SMAN 2 Bandung. Hobinya adalah memasak, travelling ke pantai, entrepreuneur sejati, serta sangat interest di bidang Marine Culture.

Dwijayanti Arum Sari  230210080036

Penulis merupakan mahasiswi Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran yang dilahirkan di kota Banjarnegara pada tanggal 20 Januari yang telah mengenyam pendidikan di SMA PB Soedirman Bekasi. Menyukai bidang Marine Biology terutama di bidang Konservasi.

Marine Ecology

Ilmu Kelautan UNPAD 2010

About these ads

Responses

  1. Kalau kembali ke karawang, untuk riset coral reef. sebaiknya mampir dulu ke Dinas Perikanan, Kelautan dan Peternakan Kab. Karawang. kita diskusi.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: